foto: Raisan Al Farisi Sebagai warga asli Bogor, saya keitung jarang banget main-main di perkebunan teh di Puncak. Dulu sih main ke Puncak seringnya ke rumah teman-teman sekolah. Tapi kali ini saya mau menjajal perkebunan teh yang letaknya tepat di perbatasan antara Bogor dan Cianjur, yaitu Perkebunan Teh Ciliwung. Kebetulan fotografer kantor ada yang minta diantar ke sini. Lumayan ya jadi pemandu wisata dadakan. Pintu masuk perkebunan ini ada di pinggir jalan, di seberang rumah makan Rindu Alam. Tiket masuknya agak mahal sih untuk lokasi wisata yang stagnan kayak gini, yaitu Rp 7.000 (th 2015), tidak termasuk biaya parkir. foto: Raisan Al Farisi Perkebunannya memang gak luas banget, tapi pengunjung bisa mengekspor spot-spot foto yang bagus. Untung saya jalan sama fotografer, jadi punya foto-foto bagus deh. Yippii… Di dalam perkebunan juga ada berapa pedagang yang menjajakan kopi dan mie instan. Biasanya kalau ada pedagang, rawan banyak sampah nih. S...
Telah jauh-jauh hari saya memutuskan untuk pulang kerumah hari ini, Sabtu, 22 Desember 2012. Tapi ada yang berbeda, biasanya baru sesudah dzuhur saya berangkat dari kosan, hari ini saya ingin pulang lebih pagi, pukul 9. Pukul 10 lebih 17 menit saya sudah meluncur dari terminal Leuwi Panjang, seperti biasa dari awal perjalanan di bis, saya tertidur, dan biasanya terus hingga akhir perjalanan. Sebelumnya saya sempat membuka twitter dan me-retweet akun @detikcom yang memposting link (click here ) kecelakaan maut yang terjadi di tol Cipularang. Saya berdoa, semoga saya selamat sampai dirumah. Pukul 11.35 tiba-tiba saya terbangun dengan teriakan orang-orang disekitar saya, "Ya Allaaah, astagfirullaaaaah, astagfirullaaaaah.." belum sempat saya melihat apa yang terjadi, tiba-tiba bis yang saya tumpangi terguncang keras menabrak sesuatu. Saat itu posisi tempat duduk saya agak depan, bangku sayap kanan. Saya melihat dengan jelas, tepat dihadapan saya, kaca depan bis pecah terhan...
foto: Irfan Al-Faritsi Awal September tahun ini diawali dengan flu berat yang bikin suara saya berubah karena mindeng parah. Tanggal 2, kang Arif Budianto, senior kerja saya di kantor tiba-tiba nawarin buat jadi moderator di acara Jabar Media Summit 2025, yang digelar 11 September. Entah kerasukan apa, saya langsung mengiyakan, karena sebagai people pleaser, saya suka kesulitan menolak :( Beberapa hari kemudian baru saya sadar, lha saya kan lagi sakit, dan acara ini acara besar yang didatangi banyak orang penting, bukan cuap-cuap di depan kamera kayak host podcast biasanya. Kenapa gak saya tolak :(( Ada pergolakan batin antara senang karena jadi perempuan satu-satunya yang dipercaya sebagai moderator dan ragu karena ini momen pertama dan takut malah jadi ambyar. Dan yang paling GONG adalah, ternyata dalam acara ini saya juga didaulat jadi seksi acara. Bayangin SEKSI ACARA yang pastinya super riweuh. Padahal saya paling gak bisa kalau 'tampil' tanpa persiapan matang, jadi kalau...
Comments
Post a Comment