Posts

Showing posts from July, 2018

Surat Cinta untuk Anakku, Rainier

Image
Foto: Raisan Al Farisi Dear anakku, Rainier... Hari ini untuk pertama kalinya momi bertemu dengan Rai. Padahal kita sudah sering bersentuhan, bercerita, dan berbagi perasaan. Terima kasih sudah bantu momi melahirkan Rai dengan mudah, bahkan sangat mudah walaupun momi harus menahan sakit luar biasa dan tidak tidur. Ada perasaan yang gak bisa momi ungkapkan waktu Rai, yang masih berbentuk bayi merah, menangis kencang lalu disimpan dipelukan momi. Perasaan ini berlapis-lapis lebih tinggi dari perasaan bahagia. Gak henti-hentinya momi bersyukur karena Rai lahir dengan sehat dan sempurna tanpa kurang satu apapun. Dengan fisik yang sempurna, maka hati Rai pun harus sempurna. Mari berbahagia bersama momi dan popi. Menjadi apapun Rai saat dewasa nanti, momi akan selalu dukung. Tapi ketahuilah, orang yang sukses adalah orang yang bisa melawan ego diri sendiri. Jadilah orang yang baik, maka kebaikan akan kembali kepada kita. Momi doakan Rai selalu bertemu dengan orang yang baik p

Rainier Suraiya (3)

Image
Saya dan suami sepakat untuk langsung menyelenggarakan aqiqah Rainier, sepekan setelah kelahirannya, 15 Juli 2018. Acara akikah ini digabung dengan syukuran puput pusar, jadi selain motong seekor kambing, kita juga bikin bubur merah dan bubur putih. foto: Raisan Al Farisi foto: Raisan Al Farisi Daging kambing yang sudah dipotong-potong kemudian dibikin gulai dan dibagikan ke tetangga, barengan sama bubur merah bubur putih. Acara intinya sih cuma dihadiri keluarga besar Bogor aja, tapi alhamdulillah khidmat. Sambil tertidur, Rai pun dipotong rambutnya sedikit-sedikit oleh para kakek dan neneknya. foto: Raisan Al Farisi Doa Momi dan Popi untuk Rai, semoga menjadi anak perempuan yang tangguh, menyenangkan, sehat jasmani dan rohani, sukses dunia akherat, dan selamat di mana pun berada. Rai jadi anugerah yang luar biasa yang bahkan udah ngebanggain banget sejak dalam kandungan. Terima kasih Nenek yang udah masak gulai kambing dan bubur. Terima kasih para kakek yan

Rainier Suraiya (2)

Image
foto: Raisan Al Farisi Saya baru diperbolehkan pulang dari rumah bersalin kalau sudah buang air kecil. Tapi buang air kecil­ ­ adalah hal yang sulit, selain ngeri karena jaitan, saya juga gak biasa pakai toilet umum. Alhasil saya diminta untuk nginep dulu satu malam, padahal jarak dari rumah bersalin ke rumah gak jauh loh. Hiks.   Mama dan Bapak gak bisa ikut nginep karena di rumah harus ngurusi ari-ari dan kain-kain penuh darah bekas lahiran. Tinggal lah saya, suami, dan seorang sepupu yang tinggal di rumah bersalin bersama dedek.  Ini bagaikan shocking therapy buat saya dan suami. Gimana enggak, belum 24 jam jadi orang tua, kita udah harus ngurus bayi baru lahir semaleman. OMG. Kita berdua begadang semaleman. Kita masih bingung dengan pola tidur dan arti dari tangisan dedek. Dedek maunya nyusu terus. Kalau udah bosan dan ngantuk, dia maunya tidur sambil di gendong-gendong. Di tengah malam, saya dan suami mesti gantiin popoknya dan benerin bedongan. Kita dituntut

Rainier Suraiya (1)

Image
foto: Fira Nursya'bani Hari Minggu pagi, 8 Juli 2018, bercak darah mulai muncul. Agak kaget sekaligus senang luar biasa, karena katanya bercak darah ini menandakan persalinan akan terjadi sebentar lagi dan artinya saya bakal cepet-cepet ketemu dedek. Yeay!   Hari ini usia kandungan saya tepat memasuki minggu ke-38. Masih ada waktu dua minggu lagi sih sampai ke hari perkiraan lahir (HPL) yang jatuh pada 22 Juli.  Saya memang selalu berdoa dan meyakinkan diri sendiri, juga menyakinkan dedek, untuk bisa lahiran gak melebihi HPL dan dengan cara yang normal. Tapi setelah dapet tanda-tanda bercak darah secepat ini, kok malah jadi deg degan yaa. foto hamil terakhir (foto: Raisan Al Farisi) Saya dan suami langsung pergi ke bidan untuk periksa. Cuma, karena waktu itu belum ngerasain kontraksi, jadi belum periksa pembukaan. Bidan minta saya untuk mengenali tanda-tanda kontraksi dan mewaspadai pecah ketuban. Kalau semuanya terjadi, saya harus segera datang ke rumah be