Posts

Showing posts from March, 2017

Hulu Citarum di Situ Cisanti

Image
foto: Fidyastria Saspida Pernah gak sih kepikiran kayak gimana bentuk hulu sungai? Nah, di Situ Cisanti Pangalengan ini kita bisa lihat titik mula Sungai Citarum yang dengan gagahnya melintasi Bandung.  Siapa sangka, Citarum yang kadang kita lihat kotor dan suka meluap, diawali dari tempat yang sejuk dan asri kayak gini. Situ atau Danau Cisanti dikelilingi oleh gunung-gunung kecil di Bandung, seperti Gunung Rakutak, Gunung Wayang, dan Gunung Kendang. Menurut keterangan yang ada di papan informasi, Situ Cisanti memiliki tujuh mata air, yaitu mata air Pangsiraman, mata air Cikolebres, mata air Cikawedukan, mata air Cikahuripan, mata air Cisadane, mata air Cihaniwung, dan mata air Cisanti. Mata air-mata air itu dijaga dengan baik dan dianggap keramat. Pengunjung gak bisa masuk sembarangan ke dalam mata air, karena dihalangi oleh pagar yang dilengkapi kawat berduri. Hanya pengunjung yang memiliki tujuan untuk berziarah saja yang boleh masuk. Hmm. Tapi saya masih bisa ngintip-ngintip

Long Time No Visit Kawah Putih

Image
foto: Raisan Al Farisi Ini bukan kali pertama saya mengungjungi lokasi wisata Kawah Putih di Ciwidey, Kabupaten Bandung. Waktu kuliah dulu, tahun 2010, saya pernah main ke sini juga, tentunya dengan suasana yang sangat berbeda. Kayak gimana sih Kawah Putih di 2017 ini? Lebih bagus, lebih rapi, dan lebih keren. Satu pengunjung dikenai retribusi sebesar Rp20.000. Kendaraan roda empat dipersilakan memarkir kendaraannya di parkiran atas dekat bibir kawah, kira-kira sejauh 1 km dari gerbang masuk. Tapi biaya parkirnya lumayan mahils, sekitar Rp150.000. Kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat yang mau parkir di parkiran bawah, gak usah khawatir karena pihak mengelola sudah menyediakan kendaraan khusus bernama Ontang Anting. Kendaraan ini mirip angkot berwarna oranye yang sudah dimodifikasi tanpa pintu dan jendela. Jadi, pengunjung bisa menikmati alam sekitar selama naik Ontang Anting. Kalau gak salah, Ontang Anting dikenai tiket tambahan sebesar Rp 15.000. Jangan cari waru

Wawancara Eksklusif Presiden Komite Palang Merah Internasional

Image
foto: Raisan Al Farisi Sudah gak kehitung berapa kali wawancara tatap muka sama narasumber, tapi kali ini jadi kesempatan langka karena untuk pertama kalinya saya melakukan wawancara eksklusif. *tepuk tangan* Narasumber saya kali ini bukan orang sembarangan, yaitu Presiden Komite Palang Merah Internasional atau bahasa kerennya International Committee of Red Cross (ICRC), Peter Maurer. Sebagai anak bawang, saya gak jalan sendirian ke Mandarin Oriental Hotel, Jakarta Pusat, tempat wawancara bakal dilakukan. Saya ditemani redaktur dan fotografer. Yang banyak tanya-tanya tentunya redaktur, saya cuma pelengkap bagaikan kecap di mangkok bakso. Mulai dari Myanmar dan Afrika Timur, sampai kepo soal perasaan doi kerja di organisasi kemanusiaan, semua percakapan (yang bahkan gak diterbitkan di koran) bisa diintip di sini. Apa tujuan Anda mengunjungi Indonesia? Kunjungan saya adalah jelas untuk bekerja sama dengan Indonesia di masa depan dengan cara-cara baru, karena kami meng

Dinginnya Coban Rondo

Image
foto: Raisan Al Farisi Selama di Malang, saya mengunjungi salah satu lokasi wisata di Batu, yaitu Coban Rondo. Coban Rondo terletak sekitar 30 km dari pusat Kota Malang dan 15 km dari pusat Kota Wisata Batu. Dari Malang, saya hanya perlu dua jam untuk bisa sampai ke Coban Rondo, akses jalannya pun gak sulit. Tiket masuk ke Coban Rondo dibanderol seharga Rp 15.000 per orang. Saya bisa langsung bawa kendaraan ke lokasi air terjun, sekitar 1,5 km dari gerbang utama. Dari tempat parkir yang lumayan luas, saya harus jalan kaki ke air terjun sekitar 200 meter. Hal pertama yang menarik perhatian saya adalah banyaknya monyet-monyet liar yang berkeliaran di sekitar air terjun. Mereka lumayan jinak, tapi agak galak juga kalau merasa terancam. foto: Raisan Al Farisi foto: Raisan Al Farisi Oh ya, Coban Rondo secara harfiah bisa diartikan sebagai Air Terjun Janda. Ini air terjun tertinggi yang pernah saya datangi, 84 meter. Tapi di sini ada larangan mandi-mandi, mun

Kampung Warna Warni Jodipan

Image
foto: Raisan Al Farisi Ini pertama kalinya saya mengunjungi Malang, pleus perjalanan kereta terjauh saya seumur hidup. Gimana nggak, saya harus menghabiskan waktu 14 jam duduk di dalam kereta dari Bandung sampai Kediri. Setelah itu dilanjut empat jam perjalanan dari Kediri ke Malang. Tapi Malang bukan kota yang biasa-biasa. Selain nasi bebeknya yang makyus (sampe tiga kali makan malam terus makan nasi bebek tapi gak bosen-bosen), di sini saya terpesona dengan satu kampung yang menyilaukan mata, yaitu Kampung Warna Warni Jodipan. foto: Fira Nursyabani foto: Fira Nursyabani Awalnya saya lihat kampung ini dari atas kereta, soalnya kampung ini berlokasi tepat di bawah jembatan kereta api di dekat Stasiun Malang. Akhirnya, saya memutuskan untuk mampir ke kampung ini untuk menghilangkan rasa penasaran. Kampung Warna Warni Jodipan terletak di Jalan Gatot Subroto, cuma berjarak sekitar 1 km dari stasiun, jadi bisa ditempuh dengan jalan kaki.  Untuk

Mengintip Pantai Sendiki dan Pantai Gua Cina di Malang

Image
foto: Raisan Al Farisi Siapa suka pantai? Semua orang pasti suka pantai. Tapi gak semua suka jalan jauuuh demi menemukan pantai yang indah. Kayak yang saya lakuin di Malang. Di hari pertama di Malang, saya dan teman-teman memutuskan untuk mengunjungi selatan Malang, yap untuk mencicipi pantainya. Dari pusat kota Malang, saya harus menempuh perjalanan sekitar dua jam ke arah selatan. Pantai pertama yang saya datangi adalah Pantai Sendiki. Pantai ini agak sedikit terpencil, kita cuma perlu jeli melihat papan-papan petunjuk sebesar 30cm x 10cm sesampainya di dusun Tambakrejo. Setelah jalan ke dalam gang besar sejauh 1 km, saya dihadapi dengan akses jalan berbatu sejauh 1 km lagi. Alhasil, kendaraan yang dibawa harus jalan pelan-pelaaann. Tapi, asyiknya di sisi kanan kiri kita disuguhi pemandangan persawahan yang luas dan segar. Walaupun kebetulan saya datang ke sana di waktu matahari panas menyengat. foto: Raisan Al Farisi Kendaraan hanya boleh parkir di gerbang depan. Sela

KHITBAH

Image
foto: Muhammad Eldi Sudradjat Bismillahirahmanirahiim .. Setelah dirundung kegalauan selama berbulan-bulan, akhirnya Raisan memilih tanggal ini untuk lamaran: Ahad 5 Maret 2017. Dua hari sebelumnya, 3 Maret, adalah ulang tahun saya. Dan lamaran ini akan jadi hadiah terbesar saya dalam 26 tahun ini. foto: Muhammad Eldi Sudradjat Hari ini hampir seluruh keluarga besar saya berkumpul di rumah. Teteh sudah bawa persiapan dekorasi kekinian, yaitu bunting flag bertuliskan OUR ENGAGEMENT dan beberapa balon tiup. Pagi itu sepupu-sepupu saya turut membantu memasang tirai putih dan dekorasi lainnya untuk backdrop foto saat lamaran. Sedangkan di depan sudah di pasang tenda kecil dan kursi-kursi untuk tamu. Berhubung keluarga besar Raisan juga akan datang, bahkan sampai sewa bis, Mama sudah masak banyak makanan sedari kemarin. Ruangan dekat pintu samping disulap jadi tempat prasmanan yang dilengkapi dengan meja-meja prasmanan berbungkus kain putih, dan wadah-wadah stainless stee

Bukan Bebek Slamet

Image
foto: Raisan Al Farisi Ini perayaan ulang tahun kedua saya bareng Raisan. Alkisah, di ulang tahun saya tahun lalu dia sempet lupa tanggal. Gilak gak tuh. Harusnya sebagai pacar saya ngambek dong, tapi kok kejadian itu malah lucu ya. Waktu itu dia 'cuma' kasih es krim yang dihiasi lilin mati lampu. Ampun ya ini orang kok gak ada romantis-romantisnya. Tapi ulang tahun itu tetep spesial karena dia bela-belain dateng dari Jakarta ke Ciawi supaya bisa kasih es krim ke saya jam 12 malem. Dia juga ternyata udah nyiapin kado sepatu sendal yang (ceritanya) udah lama saya incar. Walaupun yang dia beli sebenarnya bukan sepatu sendal yang saya mau ihihi. Serius. Ketika ada orang cuek berkorban buat kita, walaupun sangat jauh dari kata romantis, tapi kita akan berjuta kali lipat lebih bahagia. Yekan. Nah, momen ulang tahun kali ini bertepatan dengan jadwal saya piket malam. Sudah beberapa bulan ini Raisan selalu nemenin saya piket malam. Saya kerja, dia tidur di sofa kantor.